Jumat, 26 April 2013

Cerpen kehidupan

It is my story.
kisah yang gue tuangin dalam sebuah cerpen
semoga suka sama ceritanyaa :)

hujan deras mengguyur pinggir kota jakarta, tepat disaat murid murid SMA Cendana berhamburan keluar pintu gerbang.
"Sil ? mau pulang bareng jemputan gak?" tanya vero seraya menadahkan tasnya diatas kepala. "engga ver, gue mau sholat dzuhur dulu dimushola sekolah abis itu gue mau main dulu sama temen kelas gue" "ujan ujan gini masih mau main?" sila hanya menanggapi dengan senyum kecil" "yaudah gue duluan deh, kelamaan ngobrol sama lu baju gue rembes nih" sambil berlari berharap bajunya tidak basah vero menghampiri jemputan sekolah yang daritadi sudah menunggunya, sesekali vero melirik ke arah sila yang masih terdiam di pinggir gerbang.
setengah jam berlalu , sekolah sudah mulai sepi dan hujan sudah mereda, sehabis menjalankan ibadah di mushola kecil milik sekolahnya  sila berjalan ditemani sebuah gitar,tetapi tak pulang, seperti ada suatu tempat yang sudah menantinya.

sekitar 15 menit berjalan dari sekolah sila berjalan ke pinggir danau, danau yang sunyi, sepi, hanya ada hembusan angin yang mengdampinginya. duduk, memegang gitar dan terdiam. langkah sepatu terdengar mendekatinya
"sila? lo ngapain sendirian disini?" cowok beralis tebal itu seperti sudah mengenalnya sejak lama. "Esa? ko lo bisa disini? bukannyaa..." "gue dibandung? cuma 1 taun aja ko, gue mau nerusin sekolah disini, maunya sih 1 sekoah sama lo hehe" "tapi kenapa di danau ini?" pertanyaan sila seakan menjelaskan bahwa tempat ini hanya dia. tak pernah ada orang lain. "gue tinggal di belakang danau ini, tanpa tetangga , makanya gue sering kesini. sekedar jogging, atau diem gajelas kaya lu gituu haha"
lagi lagi hanya senyum kecil yang menjadi jawaban sila. seperti ingin menghangatkan suasana , Esa bergegas membuka pembicaraan "eh? masih pake seragam ko udah bawa gitar? sinii, mending gue yang maen" tanpa persetujuan sila , esa langsung mengambil gitarnya dan mulai mengalunkan sebuah lagu . 3 menit menyanyikan sebuah lagu yang sedikit nge-beet, sila masih asik dengan lamunannya. sampai sampai Esa ikut terdiam usai menyanyikan lagu dari band j-rock. sekarang hanya angin yang membuka suara.
"aku ngin menjadi mimpi indah dalam tidurmu.."  disaat dikesunyian sila menyanyikan sebuah lagu dari once. Tanpa pikir panjang esa segera mengiringinyaa. dan sepertinyaa suasana mulai bersahabat.

setelah asyik berbincang bincang dengan teman lamanya itu, sesekali sila melirik jam tangannya. melihat itu Esa membuka pembicaraannya kembali "udah jam 3, lo gak pulang? gue anter yah?" sila berfikir sejenak sebelum akhirnya iya menyetujui ajakan Esa. danau kembali pada kesunyiaannya
stg jam-
"gue anter sampe sini aja ya sil?" "loh? nggak mampir dulu?" "kapan kapan aja deh, gue kan mesti ngurusin surat pindah gue ke SMA cendana, sekolah lo kan?" meski sedikit bingung dengan kehadiran Esa secara tiba tiba , dan mengetahui sekolahnya,iya masuk dengan langkah keil "oh gitu, yaudah, thanks sa udah nganterin" motor ninja hijau itu lamalama lenyap dari halaman rumah sila.
sesampainya di pintu sila seperti ragu akan kepulangannya, entah apa yang dipikirkan , dia seperti tak mau pulang kerumah sederhananya itu.
"assalamualaikum" dipojok ruang tamu seorang cewek berambut panjang menatap sila dengan tajamnya "waalaikum salam! ngapain lo pulang? mau numpang makan? atau numpang tidur? maen aja gih sampe pagi ! gausah pulang sekalian. gak ada gunanya juga kan lo dirumah ini? gue sih gak peduli ya lo mau pulang atau engga,  tapi nyokap bawel tuh nyariin lo" ternyata cewek itu zahra , kaka dari sila. seperti menjadi jawaban mengapa iya menunda waktu untuk pulang kerumah, karena iya sudah mengetahui bahwa ka zahra sedang libur kuliah dan ada dirumah. prinsipnya "menghindar lebih baik"  "gausah pulang mba sekaliaann! gak rugi ko guee!" masih terdengar omelan zahra dibalik pintu kamarnya"
azan ashar melenyapkan omelan ka zahra, sila bergegas mengambil air wudhu dan segera sholat ashar. dibalik sholatnya iya menyelipkan sebuah doa "ya allah aku sadar bahwa keluarga adalah segalanya, keluarga adalah anugrah terindah, keluarga adalah harta yang paling berharga, tapi? kenapa dia seakan menyingkirkan ku? kebencian selalu terliat jika aku ada didepannya. cacian, hinaan, kesalahan. itu semua selalu dilimpahkan kepadaku. aku tak kuat menerima semua itu dari orang yang sedarah dengan ku. aku ingin ini semua berakhir. entah dia, atau aku yang harus pergi-_-"

matahari telah bersembunyi, kini hanya kegelapan yang menemani.
seakan tak mau ada keributan, sila bertahan dengan buku pelajarannya di ruang tivi, sedangkan ka zahra asik di kamar. maklum, rumah yang hanya memiliki 2 kamar , mengharuskan sila dan ka zahra membagi 1 ruang untuk mereka berdua.
lagi lagi seperti menjadi rutinitas bagi sila untuk mendengar omelan ka zahra  . walaupun sulit dimengerti , hanya status sebagai kaka yang membuat sila diam tak membantah.
"eh! kalo nggak bisa diatur mending tidur luar aja! buku pelajaran lo itu nyampah tau nggak! ngapain pake dimeja belajar gue segala"
bodohnya, Sila salah meletakkan buku tulisnya di meja belajar ka zahra, dia lgsg bergegas menuju kamar untuk memindahkan buku itu. tetapi niat baik itu seakan rapuh saat dia membuka kamarnya . semua buku berserakan di lantai dan berhamburan tak teratur. sila terperosot dan duduk dibalik pintu sambil bergumam kecil "harus dengan cara ini? hanya karena 1 buku, semuanya hancur? berantakan?" tak berlama lama dia segera merapikan semua buku yang berhamburan di lantai dan kembali ke luar.
malam semakin larut , ka zahra mulai tertidur, Sila sedikit merasakan kedamaian dirumah ini, rumah yang tak pernah bisa membuat dia tersenyum.
tiap hari iya tidur di sofa ruang tamu karena tak nyaman jika sekamar dengan ka zahra, kamar itu hanya sebagai tempat buku dan baju baju dia menetap, tanpa dia. seperti sudah terbiasa dengan keadaan ini, iya selalu berbekal selimut tebal untuk melindungi dirinya dari kedinginan. dan jika ayah atau ibunya bertanya "mengapa sila tidak tidur dikamar" jawaban singkat selalu dilontarkan sila "di kamar panas" meskipun iya tau berbohong bukan hal yang baik, iya lebih memilih berbohong untuk menghindari yang buruk.

memiliki keluarga yang utuh bukan jaminan kebahagiaan, tetapi memiliki ketulusan yang utuh adalah cermin sebuah kekeluargaan.
. hidup bukan pilihan. karena semua yang ada dikehidupan harus kita jalani. kebahagiaan atau hal menyakitkan-

@fatimahhh_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar